Selamat Pagi

Selamat pagi, perempuan yang kuharap kelak berada di samping kanan ketika kubangun dari tidur malamku. Membangunkanku dengan beberapa pukulan kecil di tangan, sedikit goyangan di tubuh, dan kecupan di pipi yang kubalas dengan pelukan hangat. Lalu saling bertukar kata-kata manis, menyudahinya, dan bangkit dari tempat tidur. Aku berwudu, sedangkan kau bersiap menggelar dua sajadah bermotif kabah untuk perjumpaan kita dengan Yang Mahacinta.

Setelah itu, kita keluar dari rumah, berkeliling kompleks mencari udara segar, lalu kembali. Aku duduk di beranda rumah, kau masuk, lalu keluar lagi membawa dua cangkir teh hangat, dan sepiring kue kering. Kau duduk, mematahkan kue kering menjadi dua−kau tahu cara yang kusuka, dan mencelupkannya ke dalam teh.

Lalu kita akan terlibat percakapan yang tidak singkat. Seperti membahas pekerjaanku sebagai penerjemah; pekerjaanmu sebagai penyiar; menertawakan keangkuhan bos-bos kita; mengeluh tentang beberapa tugas yang segera menyusul; mengingat beberapa iuran yang belum kita lunasi; kabar orangtua dan adik di kampung; mudik lebaran bulan depan; keran kamar mandi yang sedang rusak; asap rokokku yang acapkali mengganggumu; membeli majalah dan novel baru minggu ini; menonton konser Efek Rumah Kaca dan Fourtwnty tiga hari lagi; rencana sarjana tingkat kedua kita; hingga ke masalah seksualitas; perihal jumlah anak−jika laki-laki aku yang memberikan nama dan jika perempuan kau yang memberikannya; jenjang pendidikan yang akan anak kita tempuh; sampai ke pembahasan yang paling sederhana.

“Kau mau kumasakan apa hari ini? Tempe bacem, sayur tumis kangkung, terong sambal, atau tumis kol?” tanyanya.

“Keempat-empatnya, yang spesial. Kalau terong dipotongnya kecil-kecil dan bulat, ya. Oh iya, sayur tumis kangkungnya jangan kebanyakan air dan tumis kolnya dicampur sama telur oseng aja.”

Kau lemparkan senyum; kau sudah hafal kesukaanku. Lalu kau bangkit dan membawa kembali sepasang cangkir teh dan piring kue yang telah habis ke dalam rumah.

“Masak dulu, ya, Dims.”

“Sip”, jawabku singkat.

Kubakar rokok yang kubeli semalam sembari mengecek notifikasi Path. Seseorang mendengarkan lagu He Is We – I Wouldn’t Mind dan menandaiku bersamanya. Seseorang itu ternyata: istriku.

 

Forever is a long time

But I wouldn’t mind spending it by your side

Tell me everyday I get to wake up to that smile

I wouldn’t mind it at all,

I wouldn’t mind it at all

 

Selamat pagi, kamu; dunia yang aku tuju.

 

 

12 Juli 2016,

Kota penuh cinta dan rindu

(bangun kepagian padahal masih libur)

Advertisements

5 thoughts on “Selamat Pagi

  1. Oktaria Asmarani says:

    *nggak bisa menahan diri untuk komentar*

    Bagus banget, wak! Sepertinya aku tau surat ini buat siapa. Atau aku salah?
    Kalo suratnya kuamini buat beneran jadi nyata, boleh ga, wak? Kalo ga boleh ya ga usah. Kalo iya ya kutulis di sini: amin 🙂
    *duh maaf ya alay, aku seneng sih baca tulisan ko yang ini*

    Seneng ko nulis lagi dan banyak pula jumlahnya. Ditunggu, wak, tulisan yang lain!

    N.B.: aku pernah nulis sejenis gini juga, dengan versi yang beda di https://raniokt.wordpress.com/2016/02/20/harapan-kecil/. Tapi bagiku punya ko lebih terasa nyata, hihihi.

    1. Dimspm says:

      *nggak bisa menahan diri untuk nggak ngebalas komentar*
      Ya ampun terima kasih ya, Wak!
      Hahaha, ko pasti tau dong hihi. Aku sangat mengapresiasi kalau ko mengamini, sih. Wkwkwk.
      Iya biasalah, Mbak, penulis amatir dan moody-an hiks.
      Wah, aku baru saja mengunjungi laman tersebut, Mbak. Itu lebih nyata deh sepertinya hehe.
      Ditunggu juga tulisan-tulisan fiktif yang jujur lainnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s