Harmoni dalam Keberagaman

Setelah melalui pertimbangan yang alot, aku memutuskan untuk tidak pulang (mudik) ke kota asalku, Banda Aceh, pada Idulfitri kali ini. Alhasil, hari-hari lebaran kali ini kulalui di indekos dan mengunjungi beberapa rumah teman-teman kuliah di Jogja.

Pukul 6 pagi hari ini aku berangkat menuju Mesjid Kampus UGM untuk melaksanakan salat Idulfitri. Salat sunat dua rakaat yang hanya dapat dilakukan setahun sekali diiringi dengan gema takbir ini sangat dinantikan oleh semua muslim yang menjalani puasa. Seperti “akhir” atau “kemenangan” setelah tiga puluh hari berturut-turut berpuasa. Biasanya juga menjadi momen berjumpa tanpa sengaja dengan teman, relasi, atau bahkan mantan.

Sepanjang jalan yang kulihat adalah beragam macam keluarga dari berbagai desa datang menggunakan kendaraan pribadi beroda empat dan dua, beberapa berjalan kaki, dan jarang sekali yang berjalan seorang diri sepertiku. Ini kali pertama lebaran yang jauh dari orangtua dan keluarga; sedih memang rasanya.

Selepas salat aku bergegas pulang. Namun seperti kebiasaanku mengamati hal-hal di sekitar, kulihat banyak keluarga yang berfoto berlatarkan mesjid menggunakan kamera handphone, kamera digital, hingga gopro; beberapa bapak berkumpul membuat lingkaran kecil bermaaf-maafan sembari membicarakan UEFA EURO 2016; ibu-ibu yang merapikan khimar dan gamis barunya sambil menyapa siapa pun yang dikenalnya di parkiran selatan; beberapa remaja yang sibuk mengupdate Snapchatnya dengan caption dan filter berbau lebaran, hingga anak-anak kecil yang tertawa dan menangis berkejar-kejaran.

Sesampainya di indekos, aku memasuki rumah Mbah dan bersalaman dengannya, anaknya, dan cucunya. Anak-anak si Mbah semua berkerja di luar Kota Yogyakarta, tetapi masih di Pulau Jawa. Momen-momen seperti ini sangat mereka tunggu. Karena walau hanya diberi waktu liburan yang singkat, yang penting mereka dapat berkumpul bersama di hari lebaran.

Setelah itu, Mbah menawarkanku Nasi Opor Ayam yang kusambut dengan anggukan. Ini kali pertama aku memakan opor. Biasanya, di setiap lebaran yang selalu terhidang adalah beberapa potong lontong, daging rendang, tauco udang, dan teman-teman seperjuangannya; namun kali ini berbeda, walau sama-sama enak rasanya. Kami makan bersama di ruang tamu. Anak pertama si Mbah bercerita banyak denganku. Perihal proses perjalanan dari Bekasi ke Jogja, Bekasi yang semakin padat, Kampung Kuningan yang dirindukan, hingga mengajakku untuk ikut berpartisipasi dalam tradisi lebaran di sini setelah selesai makan.

Di Kampung Kuningan ini memiliki salah satu tradisi unik selepas Salat Idulfitri, yaitu halalbihalal. Nah, acara tersebut berlangsung beberapa menit setelah orang-orang sampai ke rumah masing-masing. Lalu akan diarahkan untuk berbaris di sepanjang Jalan Kuningan tersebut melalui pengeras suara mesjid. Acara dibuka dengan kata sambutan dan mocopat oleh pemuka agama Islam, lalu dilanjutkan dengan kata sambutan dari pemuka/perwakilan agama Katolik, Kristen Protestan, dan Budha. Mereka semua berbahasa Jawa, sehingga banyak hal yang tidak kumengerti. Namun, Om Jok, anak pertama si Mbah yang sedari tadi menemani dan berdiri di sampingku menceritakan sedikit.

Halalbihalal Kampung Kuningan ini adalah hasil dari pemrakarsa, Bapak Kyai Adi Tomo (maaf jika salah penulisan, karena terdengar samar-samar), salah satu kyai di Kampung Kuningan. Tradisi ini telah berlangsung berpuluh-puluh tahun sejak 1960-an. Dahulunya, sebagian besar warga di Kampung Kuningan adalah penganut Katolik, namun beberapa puluh tahun kemudian warganya banyak yang menganut Islam dikarenakan banyak juga pendatang dari berbagai daerah.

Nah, tradisi ini terus berlangsung karena dianggap efektif dalam menjalin silaturahim antarwarga. Semua warga baik yang Islam maupun non-Islam dapat berbaris membentuk satu garis panjang namun dipisahkan antara lelaki dan perempuannya. Lalu setelah pemuka agama menyelesaikan sambutannya, barulah barisan-barisan tersebut bergerak diikuti saling salam antarwarga. Biasanya orang-orang yang sudah tua diberikan kursi duduk di tengah-tengah antara baris lelaki dan baris perempuan, sehingga tidak akan kelelahan berjalan.

Walau intensitas waktu untuk berbicara dan bermaaf-maafannya lebih sedikit dibanding mengunjungi rumah-rumah tetangga satu per satu, setiap warga yang mengikuti kegiatan ini dijamin akan berjumpa dengan seluruh warga. Setiap jabat tangan disambut suka-cita, haru mengingat kenangan, tangis mengingat kesalahpahaman, senyum berbalas tawaan, beberapa orang tua memberi wejangan kepada yang muda, beberapa ada yang bertemu mantan dengan tatapan rindu tak tertahankan, dan aku ikut bersatu dengan segala perasaan yang berkecamuk bersama “keluarga” baruku di sini. Walau belum mengenali mereka semua, namun orang-orang di sini sangatlah ramah.

Aku tidak tahu di daerah lain ada tradisi halalbihalal seperti ini juga atau tidak, namun sejauh ini baru kujumpai di sini. Kampung Kuningan yang tidak terlalu luas wilayah geografisnya ini mengajarkanku toleransi antarumat beragama yang sesungguhnya. Bagi mereka, jumlah bukanlah benih yang melahirkan mayoritas dan minoritas; mendominasi dan didominasi. Melainkan, sinergi dalam keberagamaan; harmoni dalam keberagaman.

 

Selamat Idulfitri 1438 H!

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

 

1 Syawal 1438 Hijriah,

Yogyakarta

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s