Ramadan yang Hilang

Ini kali ke-lima belasku berpuasa di bulan Ramadan. Sebuah bulan di dalam kalender Hijriah yang dinanti-nantikan oleh hampir semua muslim. Entah memang mengejar berkah dan nikmat Tuhan, menambah amal hingga ibadah sunah dikerjakan, libur panjang yang diisi dengan tidur-tidur bermalasan, atau berharap baju baru dan tambahan jajan di hari Lebaran.

Dari tahun ke tahun, keluarbiasaan Ramadan menjadi biasa-biasa saja bagiku. Bukan, bukan karena Ramadan tidak istimewa dan penuh berkah. Namun, ketidaksiapanku menyambutnya ditambah cara memulai yang salah. Di saat orang lain memanfaatkan momen penting ini dengan beribadah dan beramal lebih dibanding biasanya, yang kulakukan hanyalah sekadar menahan lapar dan dahaga ditambah menjalankan ritus wajib agama. Selebihnya? Tidak ada. Paling mengaji, sekali-dua kali.

Aku rindu saat pertama kali diajarkan berpuasa. Di usiaku yang keempat, aku telah berpuasa 14 jam penuh. Walau mungkin ada beberapa hari yang bolong, tentunya. Kedua orangtuaku tidak terlalu memaksa dan menjanjikan hadiah seperti kebanyakan orangtua, namun ada kebanggaan tersendiri ketika berpuasa penuh sedari kecil.

Aku rindu saat pertama kali salat tarawih. Biasanya keluargaku pergi berbarengan ke mesjid terbesar di kotaku, Mesjid Baiturrahman. Sesampainya di sana kami berpisah dan aku memilih bersama ayah. Sajadah merah marun kecil pemberian ibu kugelar di samping sajadah ayah selama tiga puluh hari berturut-turut di lokasi yang sama, paling berbeda satu-dua shaf dari biasanya.

Aku rindu saat pertama kali mengikuti pesantren kilat. Bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai sekolah dasar di kotaku, berlomba menghafal ayat-ayat Alquran, memamerkan jumlah puasa yang telah kami jalankan, menunjukkan Buku Ramadan milik sekolah yang harus selalu diisi setiap ceramah salat tarawih, hingga melaksanakan pagelaran seni islami dan bazaar buku.

Aku rindu saat pertama kali mulai menjalani Ramadan dengan sungguh-sungguh. Semangat beribadah baik wajib dan sunah, beramal, produktif, mengisinya dengan hal-hal positif. Ya, tidak sekadar menahan lapar dan dahaga semata−seperti sekarang ini.

Aku rindu saat pertama kali lebaran. Berkumpul bersama keluarga, saling meminta dan memberi maaf, bertukar cerita tentang pengalaman berpuasa, menikmati lontong dan rendang yang dimasak kemarin siang, bersua dengan kerabat, diikuti kunjungan ke rumah-rumah tetangga dan saudara dengan harapan membawa pulang beberapa lembar uang di saku celana baru sebelah kanan.

Aku rindu keinginan untuk menjalani Ramadan dengan penuh keikhlasan. Mengistimewakannya; meresapi nilai-nilai di dalamnya; menyatu dengannya. Bukan sekadar perencanaan fiktif di masa sekarang untuk Ramadan tahun depan, juga bukan sekadar siap atau tidakkah untuk benar-benar mewujudkannya. Namun pertanyaan sesungguhnya: apakah aku masih dapat berjumpa dengan Ramadan penuh berkah selanjutnya? Semoga.

 

Aku rindu, kamu; Ramadan yang hilang.

 

 

Di pengujung Ramadan 1437 H,

saat gema takbir bersahut-sahutan.

Advertisements

4 thoughts on “Ramadan yang Hilang

  1. neysamo says:

    Hihi.
    Mari menyelam lebih jauh. Mungkin jikalau belum terasa menjalani dengan keikhlasan, bisa dilanjut usahanya setelah ini. Semoga nilai-nilai Ramadan dapat kita bawa hingga esok. Dan semoga hari-hari kita semakin bermakna. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s