Ilmu Filsafat: Pilihan, Alasan, dan Harapan

Beberapa hari sebelum pengisian SNMPTN, aku membaca salah satu tulisan Mbak Gigay Citta Acikgenc (Gea) di Jurusan Kuliah tentang program studi yang ia tekuni, yaitu Ilmu Filsafat di Universitas Indonesia (UI). Ia memaparkan sekilas keputusannya dalam memilih, apa yang ia pelajari, apa yang ia dapatkan, dan apa yang ingin ia wujudkan dengan filsafat.

Setelah selesai membaca, aku seperti merasa ada “aku” di jurusan ini. Dua hal dasar di dalam filsafat seperti berpikir dan membaca adalah kegiatan yang sering kugeluti di dalam keseharian. Walau aku tidak menggunakan metode kefilsafatan ketika berpikir dan bacaanku juga tidak pernah secara khusus mengenai filsafat, semisal Filsafat Moral, Filsafat Manusia, ataupun Filsafat Nilai. Paling, beberapa novel yang mengandung nilai-nilai filsafat seperti Samannya Ayu Utami, Cantik itu Lukanya Eka Kurniawan, atau Sang Nabinya Kahlil Gibran. Tepat pada saat itu muncul sedikit ketertarikan.

Sesungguhnya, aku lupa kapan pertama kali mengenal kata “filsafat”. Bayangan singkatku hanyalah wajah Aristoteles serta Plato yang kudapatkan dari buku RPUL, hal yang berkaitan dengan kecerdasan dan keterbukaan dalam berpikir dan berbicara, serta objek bahasannya orang-orang pintar. Pengetahuanku masih amat dangkal−dan ternyata filsafat tidak hanya sekadar itu.

Selain merasa ada “aku” di filsafat, sedikit ketertarikan dan rasa penasaranku tumbuh untuk mendalami sebuah disiplin ilmu yang disebut sebagai ibu dari segala ilmu ini. Keyakinanku, jika aku dapat menguasai ilmu filsafat, maka akan banyak bidang disiplin ilmu yang dapat kukuasai. Sehingga kumasukkan sebagai pilihan keduaku setelah Sastra Prancis di SBMPTN. Hasil pengumumannya pun semakin menguatkan dan membuatku yakin: filsafat adalah jalanku, filsafat adalah sesuatu yang harus kutekuni.

Sebelumnya, keputusanku memilih filsafat sangat didukung oleh orangtua, terutama ayah. Sejak kecil, orangtuaku bukanlah dua orang pendikte jalan hidup anak-anaknya. Kami (aku, abang, kakak, serta adik) diberikan kebebasan dalam memilih pendidikan−walau didorong untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik−yang tentunya dilekati rasa bertanggung jawab. Oleh karena itu, kami benar-benar tumbuh dan berkembang dengan cara dan pilihan sendiri.

Aku juga senang kedua orangtuaku bukanlah tipikal penanya dan penduga mau jadi apa? atau parahnya filsafat itu pencetak ateis dan menyesatkan, kan?−seperti kebanyakan pertanyaan dan stigma yang beredar di masyarakat. Mereka berdua mendukung setiap pilihan dan keputusanku. Mereka pun dengan bangganya menjawab ketika ada teman ayah atau ibuku yang bertanya tentang apa jurusanku. “Filsafat! Calon pemikir hebat!”, yang diiringi gelak tawa dan rasa bangga yang terlihat dari mimik wajah mereka. Selain keluarga, teman-teman terdekatku mendukung juga.

Jurusanku juga dikenal dengan jurusan pencetak pengangguran. Entahlah. Menurutku, jika kita memiliki keahlian yang mencukupi di dalam suatu bidang, maka pekerjaanlah yang mencari kita. Bukan sebaliknya. Sehingga pekerjaan bukan menjadi hal yang perlu ditakutkan.

Aku juga bukan seseorang yang terlalu memikirkan apa pekerjaanku di masa depan. Maksudku, aku tidak terlalu suka dan ingin dengan pekerjaan yang monoton berjadwal penuh. Aku menginginkan pekerjaan yang memang kusukai dan kunikmati. Ada perasaan ingin berlama-lama dan larut di dalamnya.

Sedikit banyaknya mulai ada perubahan di dalam diriku selama tujuh bulan berstatus sebagai Mahasiswa Filsafat. Seperti berpikir kritis: tidak mentah-mentah menerima berbagai hal dan informasi yang kudapat; berpikir dari banyak sisi: melihat dan menelaah permasalahan tidak hanya dari satu sudut pandang; dan yang terpenting: tidak sulit lagi menerima keputusan, tindakan serta pilihan hidup orang di sekitar.

Selama satu setengah semester ini, aku telah disuapi berbagai materi perkuliahan yang menurutku cukup sulit. Hal ini mungkin dikarenakan tidak pernah mengenal filsafat sebagai mata pelajaran dari sekolah dasar hingga menengah atas. Padahal sebaiknya filsafat ini telah diajarkan sejak pendidikan usia dini. Karena pada dasarnya anak-anak adalah filsuf alamiah yang mempertanyakan segala sesuatu−yang merupakan salah satu metode lahirnya filsafat.

Beberapa matakuliah yang telah kutempuh berjumlah dua puluh satu. Di dalamnya terkandung Filsuf Barat, Cina, India, Islam hingga Nusantara sejak pramodern, modern, dan kontemporer beserta pemikirannya; pengantar serta asas filsafat; logika yang mengajarkan keterampilan berpikir lurus tanpa adanya logical fallacy (kesesatan berpikir), teknik menulis ilmiah beserta metode kefilsafatan, dan ilmu-ilmu kefilsafatan lainnya.

Di Filsafat UGM juga memiliki 4 konsentrasi yang baru bisa diambil pada semester 7. Di antaranya ada Ilmu dan Teknologi, Sosial dan Politik, Religi dan Budaya, serta Etika Terapan. Sejauh ini ketertarikanku ada pada Religi dan Budaya (RnB) yang dikarenakan matakuliahnya dan berhubungan dengan rencana jenjang studiku selanjutnya. Namun kemungkinan berubah masih ada.

Walau pada kenyataannya belum berfilsafat, namun sedikit-banyak aku telah mengetahui berbagai teori di dalamnya. Harapanku, ketika aku sah mengenakan toga dan mendapatkan gelar S.Fil, nilai-nilai kefilsafatan dapat kuterapkan di kehidupan nyata dan membantuku menyelesaikan persoalan-persoalan hidup yang semakin kompleks. Di samping itu, dikarenakan tidak suka dan tidak ingin menjadi orang kantoran bekerja sehari penuh, aku ingin menjadi pegiat budaya atau pegiat sejarah yang menghasilkan banyak karya.

“Tidak ada yang lebih membahagiakan dari jatuh hati pada bidang yang sedang kita tekuni.” – Mbak Gea, Filsafat UI 2012

Kata-katanya begitu mengilhami. Walau pada awalnya ketertarikanku pada filsafat tidak terlalu kuat dan kelulusan di pilihan kedua tidak terlalu kuamini, namun di dalam prosesnya aku telah jatuh hati. Aku jatuh hati pada apa yang kini kutekuni.

 

 

Sedang dalam masa ujian tengah semester,

di kota seni dan budaya

pukul satu lewat tiga puluh lima

Advertisements

5 thoughts on “Ilmu Filsafat: Pilihan, Alasan, dan Harapan

  1. Azizul says:

    Cool!
    Jangan lupa bahwa kata-kata “ateis dan menyesatkan” juga stigma dari hegemoni masyarakat religius yang bias akan nilai nilai moralnya. Apalagi di negara kita.. negara religius yang mayoritasnya abangan. Hope you enjoy yours and want to share it to me!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s