Lenyap

Aku tiba di rumah ketika matahari memuncak sedang panas-panasnya. Lelah berjalan ribuan kaki, aku memilih duduk sejenak di kursi kayu beranda. Kaki kursi ini satunya patah, namun disangga dengan sebalok kayu lain yang hanya direkat biasa. Perlu sedikit kehati-hatian jika mendudukinya.

Rumahku jauh dari kesan sederhana. Ukurannya hanya tiga kali tiga meter persegi. Di dalamnya ada ruang tamu beralaskan tikar kusut tanpa kursi, meja, ataupun vas bunga, satu kamar tidur kecil tanpa kasur, dapur kecil dengan rak piring yang berkarat serta meja kecil yang berdebu, tak ada kamar mandi, ataupun alat elektronik. Lantainya bukanlah keramik atau pun ubin, hanya petak demi petak tanah yang telah mengeras menyatu dengan garis telapak kaki.

Beberapa potong papan tak bercat dijadikan dinding. Dindingnya polos, hanya ada satu pigura tua bertuliskan kalimat basmalah yang terpatri di samping sebuah jam dinding yang ayah dapatkan saat acara tujuh belasan. Tak ada foto keluarga, tak ada foto seorang diri ayah, ibu ataupun aku.

Dulu rumah ini sempat memiliki listrik yang dialiri dari rumah saudara−sekaligus tetangga kami. Aku senang. Tidak lagi gelap ketika malam menampakkan diri. Tidak lagi takut karena ayah terlihat duduk sembari sesekali memandangi. Entah apa yang ia pikirkan saat itu, aku tak berani bertanya. Mungkin ia rindu akan senyum semringah sang istri yang telah lama mati. Atau memikirkan nasib ke depan anak tunggalnya ini. Bukan tak berani bertanya, bukan. Aku memilih untuk tak bertanya.

Aku bangkit dari kursi kayu dan beranjak menuju pintu. Memasukkan kunci di lubang, memutar ke kanan, pintu terbuka, masuk dan menguncinya lagi dari dalam. Lalu menjatuhkan pandangan ke atas meja makan yang masih saja kosong dilekati banyak debu. Sudah dua hari ayah belum pulang, sudah dua hari juga aku belum makan. Perutku semakin sakit, cacing-cacing menyanyi tak karuan.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu berulang-ulang. Oh, bukan ketukan. Lebih tepatnya pukulan. Aku bingung dan ketakutan. Kuputar kunci pintu ke kiri dan membukanya pelan. Pria berwajah sangar dengan sedikit guratan di pipi kanan, berambut gimbal, berkaos hitam serta bersepatu kickers boot, sembari memegang pistol di tangan sebelah kiri itu segera masuk. Aku kembali ketakutan.

Ia menanyakan keberadaan ayah. Aku menjawab singkat tidak tahu. Ia tak percaya, memasuki kamar tidur, lalu keluar lagi. “Bilang kepada ayahmu, segeralah bayar utang jika masih ingin hidup. Aku akan ke sini lagi besok siang!”. Ia keluar dari rumah dengan beragam cacian dan sumpah serapah terlontar dari mulut baunya. Seketika aku masuk, mengunci pintu, masuk ke kamar, menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Ini orang ketiga yang pernah datang ke rumah dan mengancam ayah. Aku takut. Takut sekali.

Aku terbangun saat pintu kamar tidur terbuka. Tampak ayah masuk, mengambil beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam tas ransel coklat tua. Seperti terburu-buru. Aku bangun dan mendekatinya. Lalu ia memelukku. Pipinya basah. Setetes airmatanya jatuh di atas kepala dan diserap rambutku. Setelah itu ia lepas dan tidak berbicara sepatah kata pun. Ia keluar dan menutup pintu. Tak berusaha menahan atau bertanya, aku hanya mengintip kepergiannya dari lubang jendela. Bulir air membasahi pipi. Rasa takut mencuat kembali. Ke manakah ayah pergi?

Aku tak tahu. Yang kutahu ialah sore itu kali terakhir kulihat ayah. Ia pergi dan tak pernah kembali. Entah melarikan diri atau sudah tertangkap ditembak mati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s