Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan

Aku tidak tahu menahu bagaimana kita pada tahun pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya sejak menaikkan status yang lebih tinggi dibanding teman sejak tiga bulan yang lalu.

Akankah saling menukar ucapan selamat pagi, mengunyah sepiring takoyaki dan mengecap segelas kakigori green tea di sabtu sore, duduk di perpustakaan kota lantai dua sembari membaca novel dan mengunyah satu-dua donat gula, bertukar pendapat tentang musik dan sastra, menonton konser band-band indie lokal, hingga bertukar “selamat tidur” tetap kita lakukan bersama-sama?

Semua pertanyaan itu muncul kala kulihat bulan dan bintang di langit malam sekarang ini. Entah mengapa aku selalu mencintai langit malam. Suasananya yang selalu mampu mendamaikan, saksi bisu kerinduan, serta medium pengingat kenangan.

Kau tak boleh cemburu. Karena sebelum mencintamu, aku sudah duluan mencintanya. Ah, ini tak penting, Sayang. Toh, kalian berdua memiliki kesamaan: sama-sama membuatku nyaman.

Lampu kamar sengaja kumatikan untuk bisa mengakrabi mereka. Penggabungan kedua cahaya itu menerangi langit yang temaram. Tunggu. Sepertinya bulan dan bintang sedang mengarahkan mata dan dua bibir tipisnya kepadaku. Lalu berbicara dengan bahasa yang amat kupahami selama lebih kurang dua sepertiga menit.

Kau tahu, Sayang? Mereka menceritakan banyak hal, salah satunya kebersamaan mereka yang kadang hanya sekitar sepuluh-sebelas jam dalam sehari. Lebih baik dibanding kita yang dapat bersama dalam ratusan jam namun dipisahkan ribuan jam. Mereka juga saling rindu, tetapi membiarkan alam yang mempertemukan. Hampir sama dengan kita yang saling rindu, tetapi membiarkan waktu liburan yang mempertemukan. Menciptakan rindu yang tak selalu tertuntaskan.

Terakhir mereka bilang, mereka tidak banyak pikir tentang kebersamaan. Karena bersama menurut mereka: bukan yang selalu bareng, bukan yang selalu update with di Path, ataupun menghabiskan waktu sehari penuh berdua. Tetapi, yang berjumpa ketika memang sudah saatnya, melontarkan nama di setiap doa, dan ke manapun telapak kaki melangkah selalu tahu berpulang ke mana.

Kebersamaan yang sebenarnya adalah saat merasa bersama, bukan saat sedang bersama. Begitu kata mereka.

Ah, Sayang. Andai kau di sini. Kuajak kau pandangi langit malam, lalu kita ajak mereka berbincang sedikit. Kau lebih baik dalam memperlakukan lawan bicaramu dibanding aku. Mereka pasti suka. Kita kabarkan, jika intensitas dan hakikat kebersamaan bukan lagi yang kutakutkan−atau mungkin kau juga.

Karena satu yang harus kautahu: kadang rindu ini menimbulkan kecemasan. Cemas dalam berjauhan. Cemas dalam ketidakbersamaan.

 

Yogyakarta,

April pertama di dua ribu enam belas

 

 

Terinspirasi dari salah satu lagu Payung Teduh di dalam album Dunia Batas (2012) yang berjudul Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan.

Advertisements

6 thoughts on “Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s