Kunjungan Sederhana, Kaya Makna

Kronologis Field-Trip Pancasila

Awalnya, kami merasa kebingungan untuk menentukan lembaga sosial apa yang akan kami (aku, Cris, Meisha, dan Okta) kunjungi ketika mendapatkan tugas kelompok dari Pak Heri Santoso saat perkuliahan Pancasila berlangsung.

Beberapa lembaga sosial bersama-sama kami sebutkan, dimulai dari panti asuhan, panti jompo, komunitas pemulung, komunitas peduli difabel, panti rehabilitasi hingga rumah tahanan.

Namun, setelah mengurutkan beberapa lembaga sosial yang akan kami datangi dan disisipi sedikit perundingan yang alot, akhirnya kami memilih sebuah panti asuhan yang terletak di Jalan Kaliurang KM 17.

Menulis beberapa pertanyaan, mempersiapkan peralatan dokumentasi, mengumpulkan sedikit dana dan barang sumbangan, serta menentukan tanggal kunjungan segera kami lakukan.

 

6 Desember 2015

Mirota Kampus Pasaraya

Setelah sarapan pagi dan membeli beberapa makanan serta minuman untuk disumbangkan, dengan bermodal waze; sebuah aplikasi penunjuk arah, kami lajukan sepeda motor menuju panti asuhan.

Melaju dengan kecepatan sedang, kadang mendekatkan sepeda motor sambil tertawa riang, saling menceritakan keluh-kesah perkuliahan, membuat perjalanan yang lumayan jauh itu terasa dekat.

Namun sesampainya di sana (sesuai petunjuk aplikasi): nihil. Kemungkinannya dua: kami tersesat; atau panti asuhan yang kami tuju memang tidak ada.

Lelah, kecewa dan hampir saja putus asa.

 

Jalan Kaliurang KM 17

14:13

Tidak. Tidak boleh pulang sebelum tugas selesai.

Akhirnya kami mencari-cari lagi panti asuhan terdekat, mencari−bahkan sampai empat kali−namun tetap tidak menemukan panti-panti asuhan yang disarankan aplikasi tersebut.

Lalu, kami mencoba sekali lagi−yang mungkin usaha terakhir. Segera bergegas menuju daerah Palagan seperti yang disarankan si penunjuk arah.

Hingga akhirnya, kami menemukan sebuah rumah yang luas memanjang ke belakang berbentuk asrama. Berdinding hijau muda yang seperempat bagiannya dilekati ornamen bata oranye yang disusun rapi sejajar secara horizontal.

Terlihat agak sepi, sekilas.

Kami edarkan pandangan mencari nama dari tempat itu. Tepat di arah jarum jam sebelas dari tempat kami memarkirkan sepeda motor.

“PANTI ASUHAN & PONDOK PESANTREN ZUHRIYAH”

p
(tampak depan Panti Asuhan & Pondok Pesantren “Zuhriyah”)

Setelah mengetuk pintu dan disambut ramah oleh salah satu santri di sana, kami utarakan maksud kedatangan dan mulai berbaur dengan para santri. Kebetulan, Ibu Yaya, pemilik panti asuhan ini sedang keluar mengisi sebuah acara di daerah Godean.

Panti Asuhan & Pondok Pesantren Zuhriyah didirikan pada tanggal 1 Juli 2000 oleh Ibu Yaya. Hal ini dilatarbelakangi oleh keinginan dari sang ayah mertua dari Ibu Yaya untuk mendirikan sebuah panti asuhan sekaligus pondok pesantren. Dengan bekal dari profesinya yang masih berkutat di bidang pendidikan dan keagamaan, ia memberanikan diri untuk membuka panti asuhan dan pondok pesantren tersebut dengan 15 anak yang bergabung di angkatan pertama.

Sistem dan struktur organisasi yang mandiri karena diisi langsung oleh anak-anak di sini menjadikan Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Zuhriyah menjadi semakin kuat berdiri. Ikatan antaranak  pun juga erat dan mereka tidak canggung-canggung lagi untuk saling mengutarakan pikiran dan aspirasi serta keluh-kesahnya kepada satu sama lain.

Tiap Sabtu malam, di sini berlangsung sebuah pertunjukan menarik yang mengasah kreativitas tiap anak. Sehingga selain untuk mengusir rasa bosan, mereka dapat menyalurkan bakat seninya dalam acara yang digagas, dirancang, dan diikuti oleh mereka sendiri yang ditonton pula oleh penduduk sekitar. Selain itu, pondok pesantren ini sering pula mendapatkan penghargaan di kompetisi seni dan olahraga antarpesantren.

Di sini juga memiliki sanksi-sanksi yang jelas serta tegas terhadap santri yang melanggar peraturan, sehingga tercipta keteraturan dan kedisiplinan yang dapat membentuk kepribadian para santri yang lebih baik.

Tiap anak yang berada di sini pastilah memiliki masalahnya masing-masing. Ada yang ditinggal oleh seorang dari orangtuanya; ada yang memang ditinggal oleh kedua orangtuanya; ada yang masih merindukan kenakalan mereka di masa lalu; ada yang ingin berjalan-jalan ke luar di akhir pekan layaknya anak remaja pada umumnya; ada yang rindu dengan orangtua, keadaan rumah dan kampungnya; ada yang menaruh perasaan pada santri lain, dan lain-lain. Namun, mereka dengan kuat mencoba bertahan dalam keadaan tersebut karena mereka menganggap telah menjadi bagian dari keluarga di panti asuhan ini. Hal ini membuat mereka kuat dan tidak ragu menjalani hari, walaupun kembali lagi, tiap-tiap mereka pasti punya masalahnya masing-masing.

Lima nilai pancasila kami temukan di sini, di antaranya: panti asuhan dan pondok pesantren ini jelas berbasis agama Islam yang tinggi dan baik. Tercermin dari anak-anak dan santri yang tidak melewatkan salat lima waktu serta kewajiban beragama lainnya, sehingga secara langsung menerapkan nilai ketuhanan; adanya nilai kemanusiaan dan kepedulian yang sangat tinggi dari Ibu Yaya berserta keluarga dengan kemauannya untuk mengasuh anak-anak yatim piatu sekaligus mendirikan pondok pesantren; di sini juga diisi oleh anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia, utamanya pulau Jawa. Mereka berbaur satu sama lain yang menunjukkan nilai persatuan yang amat tinggi; dalam pemilihan kepengurusan terlebih dahulu dimusyawarahkan sehingga tercapai sebuah keputusan final di sini. Adanya kepengurusan ini menunjukkan adanya nilai demokrasi dan perwakilan dari anak-anak di sini dalam menyuarakan aspirasinya; dan walaupun mereka datang dari latar belakang yang berbeda, mereka tetap diperlakukan secara adil dan sama. Ini menunjukkan adanya nilai keadilan sosial karena tidak membedakan satu sama lain.

Banyak pelajaran yang dapat kami petik dari kunjungan ke Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Zuhriyah ini, di antaranya: kebahagiaan dalam kesederhanaan; kekeluargaan dalam kebersamaan; kesatuan dalam keberagaman; serta ketenangan dalam keramaian.

Anak-anak tersebut juga mengajarkan kami bahwa kita masih akan tetap bisa meneruskan hidup walau menjalani hari tanpa hangatnya pelukan keluarga; melakukan berbagai hal duniawi dan akhirat secara bersama dalam suasana yang sederhana; juga harus selalu bersyukur dengan keadaan, bagaimana pun itu.

Tuhan Yang Maha Esa selalu bersama kita; selama kita mengimani dan melakukan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

 

p4
(beberapa foto yang kami ambil di sana)
p5
(kebahagiaan sederhana di tiap sekat foto)

Kunjungan kami tersebut diakhiri dengan kebahagiaan dan sesi foto-foto. Tak lupa pula, kami berempat berlomba-lomba untuk difoto. Berbagai gaya−dari foto wajah penuh, bareng-bareng, hingga gaya manusia harimau dan serigala. Enam jam bersama yang sangat melelahkan sekaligus menyenangkan.

Karena bahagia itu sederhana.

 

 

Tulisan di atas digunakan untuk memenuhi tugas Pancasila kelompok kami. Beberapa paragraf adalah tulisan temanku, Okta, dan keseluruhan gambar diambil langsung dari kamera Nikonnya.

Advertisements

2 thoughts on “Kunjungan Sederhana, Kaya Makna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s