Sembilan Detik di Tangga Belakang

Ada satu kebiasaan yang dengan senang hati kugeluti di setiap Jumat pagi: menunggumu di tangga belakang. Aku lupa mulai kapan ini dimulai. Aku tidak ingat. Yang kuingat kau selalu memasuki kampus dari gerbang belakang, masuk melalui pintu samping toilet, menaruh helm di atas loker hijau dan berjalan menaiki tangga menuju kelas Estetika. Biasanya pukul delapan kurang seperempat kau sudah tampak dan berjalan tergesa-gesa takut terlambat.

Aku juga selalu ingat apa yang kau kenakan di Jumat pagi. Kerudung hitam polos, kemeja garis-garis vertikal, jeans abu-abu atau tidak biru, serta tas motif bunga warna-warni abstrak yang selalu kau kalungkan di bahu sebelah kanan. Sesekali novel-novel sastra tergenggam di tanganmu. Satu yang kukenal, Biola Tak Berdawainya Seno Gumira Ajidarma. Bacaanmu bagus.

Ah, sepatu Reebok hitam berlapis merah jambu yang kuhapal di luar kepala siapa pemiliknya tampak mulai menyentuh lantai samping toilet. Kau datang. Aku bersiap menuruni tangga sembari menguasai diri. Entah mengapa, berkali-kali melakukannya, berkali-kali juga gugup ini tidak dapat kukuasai.

Kau telah menaiki anak tangga kedua, aku menuruni anak tangga ketiga. Kita harus berpas-pasan pada lantai tengah tangga, berdua saja tanpa ada orang lain seperti biasanya. Aku juga sudah siap berpura-pura sibuk dengan buku bacaan di tangan serta kerut wajah yang sok serius.

“Hei!”

“Eh… Ya?”

“Mau ke mana?”

“Sekre, kamu?

“Kelas. Duluan, ya!”

“Iya..”

Hari ini penampilanmu sesuai perkiraanku. Sedikit yang berbeda, kancing kemeja sengaja kaulepas; menampilkan kaos putih bertuliskan The Smiths warna hitam pekat. Aku tidak tahu betul kau penyuka The Smiths atau bukan, yang pasti kau semakin membuatku tertarik.

Segera kau naiki anak tangga ke sebelas dengan langkah terburu-buru yang meninggalkan bau. Bau harum buah-buahan segar seperti baru dipetik langsung dari pohonnya; satu-satunya harum buah yang kusuka. Entah karena memang wangi, atau karena kau yang memakainya. Entahlah, kurasa percakapan sembilan detik ini lebih penting untuk kupikir. Ini kali pertama kau menyapaku duluan. Kali pertama? Ah, iya, ini yang pertama!

Dan seingatku, kau melempar sebuah senyuman hangat di akhir percakapan singkat sembilan detik kita tadi. Ah, kau tahu? Senyummu lebih indah dibanding taman penuh bunga sweet alyssum; dan lebih manis dibanding strawberries arnaud. Senyum terbaik nomor dua setelah senyum ibuku. Kau tahu?

Aku tak sabar menunggu Jumat pagi minggu depan. Kita akan berpas-pasan seperti biasa lagi di tangga belakang, kan? Kau akan memasuki pintu samping toilet, menaruh helm di atas loker hijau, menaiki anak tangga, melihatku dan menyapaku duluan, kan?  Meninggalkan harum buah-buahan segar menuju kelas Estetika tanpa menaruh kecurigaan pada perjumpaan kita yang setiap kali di Jumat pagi, kan?

Sampai jumpa di Jumat pagi minggu depan. Aku akan menyapamu duluan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s