SBMPTN 2015: Tekad, Usaha, dan Doa

Kegagalan SNMPTN membuatku semakin terpuruk dan tertekan di bawah tekanan teman-teman yang mayoritas sudah-tahu-akan-kuliah-di-mana tahun ini juga diikuti harapan yang seolah pupus untuk berkuliah di universitas yang kuinginkan. Syukurnya, semangat dari orangtua serta teman-teman terdekat terus menghampiri yang akhirnya membangkitkan lagi semangatku.

Kebingungan datang ketika aku tidak tahu harus memulai belajar dari mana karena sebelumnya aku tidak mengikuti bimbingan belajar (bimbel) persiapan SBMPTN. Pra-SBMPTN kuhabiskan waktu dengan bermain-main, seperti nongkrong di kafe, menonton berbagai film serial, dan mengharapkan “kebaikan” SNMPTN. Dan itu ternyata merupakan perbuatan yang sia-sia jika kau memiliki impian yang tinggi.

Ya, sia-sia.

Apa bisa nembus UI?

Passing grade yang tertulis di berbagai buku paket bimbel dan di blogblog internet sebenarnya tidak membuatku takut. Namun secara tidak langsung, kita bisa melihat standar terendah dari jurusan yang kita inginkan walau tidak bersifat mutlak. Di samping itu, aku juga memerhatikan daya tampung perserta setiap jurusan yang ada di website resmi SBMPTN. Berdasarkan pengamatanku, Sastra Prancis UI memiliki grade setinggi 41,7% serta daya tampung 12 orang dengan peserta 400-an di jalur SBMPTN tahun lalu.

Kuota 12 orang dan passing grade 41,7% terus berkutat di pikiranku.

Akhirnya, dengan tekad yang membesar dan mengecil silih berganti, optimisme yang kadang menaik dan menurun, serta semangat dari semua orang−termasuk Ibu−semakin menguatkanku untuk berkuliah di pulau Jawa. Yang selalu kuingat dari Ibu: kalau impianmu tinggi, usaha dan doamu juga harus lebih tinggi dari impianmu. Terasa sekali peran seorang Ibu sebagai penyemangat di kala-kala seperti itu. Maka, aku mulai belajar secara “gila-gilaan”−walau tidak se”gila” orang lain.

Beberapa hal yang kulakukan selama H-21 SBMPTN 2015:

  1. Mempelajari semua materi (tidak memisah-misahkan; aku memilih mata pelajaran yang akan dipelajari sesuai keinginan saat itu) dari pukul 10.00-23.00;
  2. Belajar secara mandiri menggunakan Buku Kumpulan Soal SBMPTN pinjaman dari teman;
  3. Mencari tempat yang nyaman dan mendukung: Perpustakaan Pusat Unsyiah. Tepatnya di kursi pojok kanan lantai 2;
  4. Meminta bantuan untuk diajarkan beberapa mata pelajaran oleh teman-teman yang ahli, seperti: Kak Fairuz di mata pelajaran Geografi, Rizka di mata pelajaran Ekonomi, dan Matematika Dasar (Madas) oleh Qamara. Untuk mata pelajaran yang lainnya, aku pahami sendiri;
  5. Selain belajar mandiri, aku juga mengajar dan berbagi ilmu dengan teman-temanku yang mengikuti SBMPTN juga, yaitu: Puan (Manajemen Unsyiah) dan Gamal (Teknik Geofisika Unsyiah);
  6. Belajar produktif selama 2 minggu dan seminggu terakhir kugunakan untuk menenangkan pikiran, berdoa, dan beribadah wajib maupun sunah.

Aku meyakini belajar pagi-malam selama 3 minggu bukanlah waktu yang cukup untuk bisa lulus di pilihan yang kuinginkan. Sehingga, aku membuat rencana kedua: mencari jurusan Sastra Prancis di universitas lain yang masih setingkat dengan UI; tiga pilihan SBMPTN di universitas selain UI; serta mengikuti SIMAK UI. Dan akhirnya pilihan SBMPTNku jatuh pada: Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada. Sedikit informasi yang kudapatkan yaitu berdaya tampung 8 orang dan berakreditasi B.

Aku lupa tanggal berapa mengisi biodata dan daftar pilihan SBMPTNku, yang kuingat mengisinya di sebuah warnet di daerah Darussalam bersama temanku, Qamara. Setelah menunggunya mengisi segala data dan informasi, lalu sampai pada giliranku untuk mengisi.

  1. Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada
  2. Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada
  3. Ilmu Perpustakaan Universitas Sumatra Utara

Untuk pilihan kedua, aku mencari jurusan yang kusuka selain Sastra Prancis. Sehingga, Ilmu Filsafatlah yang menjadi jurusan satu-satunya yang kusuka selain Sastra Prancis. Pilihan ketiga kuisi karena arahan dari kakakku untuk memenuhi ketiga pilihan SBMPTN.

Perihal SIMAK UI, aku telah mendaftar namun tidak bisa mencetak kartu ujiannya. Aku juga bingung mengapa, namun tidak mendapatkan respons dari pihak resminya. Pilihanku di SIMAK UI adalah Sastra Prancis, Sastra Jerman, dan Sastra Belanda. Hal ini seakan semakin memupuskan harapanku untuk berkuliah di UI. Belum rezeki, pikirku.

Kota Medan kujadikan lokasi SBMPTN karena sebelumnya berniat mengikuti SIMAK UI juga di sana.

***

2 Juni 2015

Terminal Bus Kota Banda Aceh

Selepas salat Isya, lebih kurang pukul delapan lewat lima belas, aku diantar Bang Gusti ke Terminal Bus Batoh. Perjalanan yang memakan dua belas jam tersebut membuatku sangat kelelahan, sehingga aku langsung tertidur ketika sampai di rumah kakakku di daerah Sunggal, kota Medan. Seminggu selama di sana kuhabiskan dengan tidur-tiduran, mengunjungi perpustakaan kota, juga menyelusuri kota Medan yang sangat ramai oleh kendaraan.

***

9 Juni 2015

Perguruan Kristen Immanuel

Setelah “berperang” dengan situasi jalanan yang ricuh, akhirnya aku sampai di tempat ini lima belas menit sebelum ujian dimulai. Gedung A Lantai 2 Nomor 7 adalah ruanganku. Setelah dipersilakan masuk oleh kedua pengawas, aku langsung duduk, membaca doa tanpa henti, juga mengamati wajah-wajah baru yang tidak kukenali. Entah mengapa kepercayaan diri lebih meningkat ketika kita berada di tengah orang-orang yang tidak kita kenal.

Setelah mendapatkan lembar jawaban, segera kuisi biodata. Ya, hal yang paling memalaskan yaitu membulat-bulatkan kolom biodata. Aku memilih untuk tidak menggunakan penggaris bantu, karena hanya akan mengotorkan lembar jawaban. Saat lembar soal sampai di tangan dan kubuka, jantungku menyesak. Karena ini merupakan pertama kalinya aku menjawab kumpulan soal-soal yang dibatasi waktu. Ini ujicoba dan SBMPTN pertamaku.

Bismillah!

Soal SBMPTN terbagi atas dua sesi. Sesi pertama yaitu Tes Kemampuan dan Potensi Akademik (TKPA) berkode naskah 625 yang terdiri atas 90 soal dari 6 subtes, yaitu 15 soal Verbal, 15 soal Numerikal, 15 soal Figural yang termasuk ke dalam Tes Potensi Akademik (TPA); 15 soal Matematika Dasar (Madas); 15 soal Bahasa Indonesia; dan 15 soal Bahasa Inggris.

Dari 6 subtes di atas, aku menjawab 33 dari 45 soal TPA, 4 dari 15 soal Matematika Dasar, 12 dari 15 soal Bahasa Indonesia, dan 3 dari 15 soal Bahasa Inggris. Di sesi pertama ini aku sadar atas ketidakmampuanku dalam pembagian waktu menjawab soal. Hal ini tidak boleh terjadi lagi di sesi selanjutnya, batinku.

Lalu di sesi kedua yaitu Tes Kemampuan Dasar Sosial dan Humaniora (TKD-SOSHUM) berkode naskah 732 yang terdiri atas 60 soal dari 4 subtes, yaitu 15 soal Sejarah; 15 soal Geografi, 15 soal Sosiologi; dan 15 soal Ekonomi.

Dari 4 subtes di atas, awalnya aku hanya menjawab 12 soal yang kuyakin benar. Di saat itu aku kebingungan, harus “bermain” aman atau tidak. Aku tidak yakin jika 12 soal yang kuyakin benar itu dapat mengantarkan kelulusanku. Maka akhirnya, aku menjawab 13 dari 15 soal Sejarah, 13 dari 15 soal Geografi, 10 dari 15 soal Sosiologi, dan 11 dari 15 soal Ekonomi yang kuyakin lebih banyak jawaban yang benar dibanding yang salah. Menurutku, soal SBMPTN tahunku ini lebih mudah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Dimas nggak yakin tembus UGM, Mam”, jawabku pada ibuku yang menelepon sesaat setelah selesai keluar dari ruang kelas.

***

Sebulan kemudian…

9 Juli 2015

17:00

Hanya kegelisahan yang menyelimuti hari itu. Pikiranku hanya tertuju pada pengumuman SBMPTN kali ini. Karena hasilnya ini akan menentukan hidupku selama setahun ke depan. Kuliahkah aku? Karena jika tidak lolos SBMPTN, aku memilih untuk tidak mengikuti jalur tes tulis lain ataupun mencari universitas swasta. Tidak seperti kebanyakan orang, aku memilih mengikuti keinginanku bagaimanapun caranya terhadap urusan kuliah. Tujuanku cuma Sastra Prancis atau Ilmu Filsafat, tujuanku hanya UI atau UGM. Maka, aku juga tidak memilih alternatif “yang penting bisa kuliah tahun ini” walau di manapun dan jurusan apa pun. Tekadku sudah bulat: nganggur−jika tidak diterima. Meski pada awalnya kuatnya pendirianku ini ditentang oleh Ayah, namun pada akhirnya ia menyetujui kemungkinan terburuknya jika aku harus menganggur bila ditolak SBMPTN 2015.

“SBMPTN udah bisa dicek, Wak. Coba kalian cek websitenya sekarang!”, seorang dari temanku mengabarkan di grup angkatan SMAku bahwa pengumuman SBMPTN sudah dapat diakses.

Aku memilih untuk tidak membuka pengumumanku sore itu. Selain karena websitenya akan down diakibatkan banyak yang mengakses, juga ketidaksiapanku jika mendapatkan penolakan lagi. Setelah salat tarawih saja, batinku.

Tetapi aku mengakses website tersebut atas suruhan temanku, Qamara. Ia juga takut−sama sepertiku−sehingga menyuruhku yang membuka hasil miliknya. Setelah membuka hasil pengumuman Qamara, diriku terpacu untuk mengetahui hasil SBMPTNku. Maka kuputuskan untuk memeriksanya segera. Lalu kupilih website ITB karena website resmi SBMPTN tidak dapat diakses. Dibutuhkan waktu yang sangat lama hingga kira-kira lebih dari tiga puluh menit hingga website itu terbuka. Segera kuisi nomor pendaftaran dan password. Yang kuingat tanganku melemas yang menyebabkan handphone terjatuh ke tempat tidur. Mungkin berlebihan, namun jujur itu yang kualami.

Kututup layar handphone sesaat layar tampilannya mengakses halaman lain. Lambang bulat putih di sudut kanan layar itu berputar menandakan sedang mengakses. Oh, tidak! Kututup kembali layar handphone menggunakan map yang ada di atas meja. Lalu sedikit kuintip, namun masih diproses. Kuulang-ulang hingga yang ketiga kalinya, ketika map sedikit kuangkat kutemukan sebuah barcode. Aku ingat: barcode menandakan sebuah kelulusan. Saat itu senyum cerah mulai sedikit tercetak di bibirku.

Kuangkat map sedikit lagi lebih ke atas dan kutemukan Universitas Gadjah Mada. Alhamdulillah! Saat itu yang kupikir: lulus di pilihan pertama atau kedua tidak apa, yang terpenting aku sudah lulus di UGM. Hingga akhirnya kuangkat map sepenuhnya dan pihak SBMPTN memberiku ucapan selamat.

avatar
Hasil seleksi SBMPTN 2015-ku,

Mengucap syukur dan bersujud adalah dua hal yang kulakukan setelah melihat tulisan di atas. Bahagia. Bahagia sekali. Perjuanganku untuk mengurung diri di kamar dan perpustakaan, tidur larut malam karena belajar, tidak pergi ke kafe atau sekadar nongkrong bersama teman, berdoa, beribadah hingga ibadah sunah yang kulakukan semua terbalas: Aku menjadi Gadjah Mada Muda 2015!

Alhamdulillah ya Allah.

***

Untuk adik-adik calon Mahasiswa Indonesia 2016: Ayo, mulailah mempersiapkan diri mengatur jadwal dan belajar untuk penyeleksian yang sesungguhnya, yaitu tes tulis. Aku paham pasti banyak dari kalian yang berharap dengan SNMPTN. Di samping tidak perlu bersusah payah untuk belajar lagi, juga menganggap “kurang mampu” jika harus mengikuti tes tulis itu. Aku tidak menyalahkan hal itu karena aku juga salah satu yang pernah berharap dengan SNMPTN. Namun ajakanku ini bukan dikarenakan ketidaklolosanku di SNMPTN, tetapi untuk mengingatkan kalian agar tidak menyesal di kemudian.

Kalian masih memiliki waktu yang lumayan panjang, apa salahnya untuk memulai persiapan? Ayo gunakan tiga bulan yang tersisa untuk mengurangi waktu bermain-main, nongkrong bareng teman, atau hal-hal yang kurang penting lainnya. Aku yakin kalian sudah cukup dewasa untuk memanage waktu kalian dengan sebaik mungkin. Jika impian kalian tinggi, maka usaha dan doa kalian harus lebih tinggi.

Semangat untuk kalian semua!

Kata-kata yang sering kudengar: Tak ada hasil yang mengkhianati usaha, dan ini terbukti.

 

Kuningan, Yogyakarta

Hari ke dua puluh dua di bulan Maret 2016

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s