SNMPTN 2015: Gagal dan Bangkit

Perbincangan yang memenuhi tiap-tiap koridor sekolah ketika kelas XII semester 2 pastilah perihal SNMPTN. Banyak yang masih bingung mau memilih apa, ada yang sudah tahu tetapi pesimis, ada juga yang sudah yakin dan optimis−sepertiku, misalnya. Ya, perbincangan ini pasti dibicarakan setiap waktu: pagi, siang, sore, malam, dan berulang terus sampai keesokan hari. Mengapa? Karena hasil dari kelulusan/ ketidaklulusannya sedikit banyak akan memengaruhi hidup banyak siswa.

Pada masa-masa pengisian SNMPTN 2015 banyak teman-teman yang meminta saran dan pendapatku. Banyak yang belum tahu apa itu SNMPTN, bagaimana cara mengisinya, dan sebagainya. Banyak dari mereka yang terlalu apatis, sampai menganggap remeh salah satu jalur masuk PTN ini. Maka, kuberikan saran dan pendapat berbekal pengetahuan yang kubaca.

Aku lupa tanggal berapa verifikasi nilai rapor di PDSS, pengisian data diri dan pilihan, serta hari penutupan. Namun, satu yang kuingat ialah tanggal pengumumannya: 9 Mei 2015.

SNMPTN 2015

Aku baru tahu adanya jalur seleksi masuk PTN menggunakan nilai rapor dan prestasi akademik/ non-akademik ini dari teman baikku, Fania Putri Alifa, atau yang akrab disapa Ninin. Ia merupakan salah satu kakak tingkat di SMAku−yang juga saudara jauh dari keluarga ibuku−yang kini menekuni Ilmu Hukum di Universitas Indonesia.

Sepanjang kelas X, aku memilih untuk tidak “mengejar” nilai. Keseharianku belajar dengan tidak terlalu serius, bahkan lebih banyak bermain. Nilai berapa pun boleh, asal harus bagus di mata pelajaran yang kusuka. Namun, lambat laun keidealismean ini terkikis sedikit demi sedikit.

Besarnya keinginan berkuliah di luar Pulau Sumatra, keluarga, dan juga Ninin, aku bertekad berkuliah di Universitas Indonesia (UI)−bagaimanapun caranya. Optimisme yang sejak kecil telah mengakar di dalam diri, membuatku berani memilih UI sebagai tujuan.

Keinginan tersebut mulai bangkit sejak awal semester 3.  Di waktu luang kusempatkan mencari informasi segala hal yang berkaitan dengan kuliah, terlebih UI. Dari jurusan-jurusan yang tersedia, biaya UKT, tempat tinggal, hingga biaya keperluan sehari-hari. Membaca tulisan-tulisan di blog tentang SNMPTN dan perkuliahan di UI; mencari tweet-tweet mahasiswa UI di pencarian twitter dan tagar instagram; hingga mencari kontak mahasiswa UI untuk menanyakan hal-hal detail kulakukan demi Si Jaket Kuning (JaKun). Orientasi kampusku cuma satu: UI. Ya, UI!

Setelah melalui proses berpikir yang lumayan panjang, pencarian informasi mengenai jurusan seperti kebingungan antara Hubungan Internasional (HI), Arkeologi, Ilmu Sejarah, Sastra Jerman atau Sastra Indonesia−hampir semua pilihanku pada Fakultas Ilmu Budaya (FIB)−hingga prospek ke depan. Akhirnya, pilihan SNMPTNku−yang juga satu-satunya−adalah Sastra Prancis Universitas Indonesia. Tulisan-tulisan, doa, poster, makara serta lambang UI memenuhi kamarku di kemudian hari.

Pilihanku kepada Sastra Prancis (Sasper) dikarenakan ketertarikanku terhadap bahasa, sastra, dan tentu pula negaranya. Aku suka kebudayaan Prancis, cara mereka berperilaku, cara mereka menghargai kebudayaannya, perekonomian, situasi politik, hingga tempat-tempat bersejarah yang ada di sana. Juga keinginanku untuk bekerja di Kementerian Luar Negeri Indonesia, translator bahasa Prancis, atau di media massa Prancis.

Keinginanku memilih Sastra Prancis direspons baik oleh keluarga dan teman-temanku. Namun, tidak sedikit juga yang meremehkan sambil bertanya: “Cuma belajar bahasa ngapain kuliah?” dan “Mau jadi apa nanti?” sudah biasa kuterima. Ini wajar saja, dengan pemahaman mereka yang dangkal terhadap sastra serta stigma terhadap jurusan-jurusan sastra. Aku lebih memilih tutup kuping. Toh, ini yang aku sukai.

Pilihanku untuk memilih UI juga bukan karena sekadar mencoba peruntungan. Melihat nilai rapor, prestasi akademik/ non-akademik, serta prestasi sekolah dan alumni membuatku yakin hingga pada tingkat: aku pasti terpilihInsya Allah.

H-30 pengisian SNMPTN lebih banyak kuhabiskan dengan mencari tahu segala hal tentang Sastra Prancis−terlebih di UI, melihat matakuliah yang ditawarkan, serta mencari kontak mahasiswa/i jurusan tersebut yang akhirnya mengenalkanku dengan Mbak Osi Dela (Sastra Prancis UI 2014) dan Mbak Rizky Dea (Sastra Prancis UNPAD 2013). Segala hal kutanyakan secara mendetail.

9 Mei 2015

15:45

Aku, Qamara, Gamal, Sani, Naya, Rinta, dan Yurika−teman sekolahku−memilih makan siang di Nasi Uduk Klapagading sembari menunggu pengumuman SNMPTN. Bentuk ekspresi deg-degan yang bermacam-macam tampak dari raut wajah teman-teman dan tentunya diriku sendiri.

Azan ashar yang berkumandang memanggil kami untuk menuntaskan kewajiban. Salat dan doa kali ini terasa lebih khusyuk: pengumuman sebentar lagi. Tiba-tiba setelah mengaminkan segala doaku, terdengar sebuah suara semacam bisikan di telinga kananku: Kamu nggak lulus, Dims. Suara itu nyata, nyata sekali. Namun, segera kutepis dugaan buruk yang muncul itu.

Sepanjang hari menunggu pengumuman SNMPTN ini sebenarnya aku lumayan optimis. Teman-temanku juga banyak yang bilang, “Ko udah pasti lulus, Dims”, “Sampe jumpa di UI, ya!”, “Seh udah jadi anak gaul Depok nanti”, serta pernyataan-pernyataan serupa yang kuaminkan membuatku semakin optimis.

17:00

Pengumuman SNMPTN 2015

Semuanya sibuk memeriksa hasil melalui gawai masing-masing. Buruknya koneksi, kabar tidak lulus, serta panasnya udara turut membuat keadaan semakin mencekam. Tak lama, kabar baik dan buruk segera bermunculan di grup angkatan. Bahagia serta kecewa berbaur menjadi satu rasa saat itu. Aku dan Qamara memilih untuk tidak membuka pengumuman di situ karena telah memutuskan untuk membukanya bersama tiga teman terdekat kami yang lainnya: Ghalieb, Hajri, dan Mufti.

17:17

Kami lajukan sepeda motor secepat mungkin menuju rumah Hajri sambil terus berdoa.

17:32

Sesampainya di sana kami langsung berkumpul dan Qamara mengeluarkan handphonenya. Handphone itu secara bergantian kami gunakan untuk memeriksa hasil. Diawali oleh Hajri (Ilmu Sejarah UNY), Mufti (Ilmu Filsafat UGM), Qamara (tidak dapat disebutkan), dan Ghalieb (Ekonomi Pembangunan USK). Kami semua berbahagia dengan hasil pengumuman teman-temanku tersebut. Ucapan selamat, pelukan, serta pukulan tidak terhindarkan; ekspresi kebahagiaan.

Sampai pada giliran terakhir, yaitu aku. Segera kuisi nomor pendaftaran serta password lalu mengklik tombol log-in. Tidak lupa membaca basmalah diikuti perasaan yang tidak keruan. Prosesnya sangat cepat, hanya sekitar satu atau dua detik seingatku, dan…

Plak!

Anda dinyatakan tidak lulus seleksi SNMPTN 2015”.

(Ingin menambahkan kepturan hasil SNMPTNku, namun aku lupa menyimpannya)

Kotak persegi panjang berwarna merah dibarengi tulisan tersebut muncul. Kubaca berulang-ulang sambil berusaha kupahami. Dan yang kutemukan ialah gambaran UI yang semakin kabur.

“Gimana?”, tanya mereka hampir bersamaan.

Aku hanya menggeleng sambil mengembalikan handphone ke Qamara.

Mereka berempat memelukku sambil menyemangati. “SBM, Dims. SBM pasti ko tembus!”, semangat dari mereka silih berganti.

Dari kami berlima, hanya aku yang mendapatkan kotak persegi panjang merah. Tiga dari temanku (Hajri, Mufti, dan Ghalieb) lulus pada pilihan pertamanya dan satu temanku lagi (Qamara) lulus tetapi di pilihan ketiga yang tidak diinginkannya. Akhirnya, aku dan Qamara bersiap-siap−mau nggak mau−untuk SBMPTN.

Sedih? Iya.

Kecewa? Pasti.

Jatuh? Tidak perlu ditanyakan lagi.

 “Dimas jangan terlalu berharap sama SNMPTN, ya. Karena kita nggak pernah tahu gimana mekanisme penyeleksiannya. Kalau lulus, ya alhamdulillah. Kalau nggak, tetap harus bersyukur dan semangat. Gagal SNMPTN bukan berarti akhir perjuangan kita, masih ada jalur tulis. Toh, perjuangan yang sesungguhnya di jalur tulis, kan? Allah tahu apa yang terbaik untuk kita, Nak. Tetap semangat apa pun hasilnya!” – Bu Afriani

Nasihat dari salah seorang guru favoritku, Bu Afriani, seakan mendatangi dan mengingatkanku sore itu. Beliau benar, Allah ingin melihat “kemesraanku” dengan berbagai buku kumpulan soal, belajar lebih serius, dan terus berdoa tanpa henti kepada-Nya. Kata-kata itu menjadi awal bangkitku.

Jalur tulis? Ya! SBMPTN atau pun SIMAK UI harus kutempuh! Pasti lulus! Amin!

Langit tampak sedang berduka, seakan mengerti dan turut bersedih bersama hati para pengikut SNMPTN 2015 yang gagal. Tetes demi tetes air turun dengan ritme yang tegas dari langit menuntun perjalanan pulangku bersama Qamara.

 

 

P.S.: Tulisan mengenai pengalaman SBMPTNku akan menyusul.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s