Sandal Jepit

Kau mungkin pernah mendua atau diduakan dalam perihal apa pun, termasuk dalam percintaan. Suatu ikatan yang seharusnya sakral dan dibubuhi momen-momen indah terpaksa bernoda dikarenakan satu dari sepasang berpura-pura lupa atas komitmen yang telah diikrar. Sakit dan perih menjadi rasa yang tak terelakkan, namun tulus dan sayang berusaha meredam.

Kisah percintaan yang kualami, ku ibaratkan bak sebuah sandal jepit.

Aku; si sandal jepit, sering kau jadikan pilihan keduamu ketika memilih alas kaki yang akan kau kenakan. Mengondisikan tempat serta tujuan, aku sering kau gunakan ke tempat-tempat yang sederhana. Berbeda dengan temankuyang selanjutnya akan kusebut “musuh”yang kau prioritaskan dan selalu kau gunakan ke tempat-tempat yang berkelas.

Sadar atau tidak sadar, secara implisit, hal ini menunjukkan dirimu yang sekarang. Kau lebih memilih seseorang dengan fisik yang lebih baik, terlihat hampir sempurna dan istimewa. Berbanding terbalik denganku yang bisa dikatakan sederhanabahkan amat sederhana.

Paradigmamu; dengan mengenakan musuhku, maka prestisemu di hadapan lingkungan dan temanmu akan naik. Ya, aku setuju. Namun kutahu, mengenakannya ke mana-mana tak selamanya membuatmu nyaman.

Kau mungkin lupa, aku; sandal jepit milikmu mulai melesu dan berdebu. Terdiam, merenungkan setangkup dugaan serta memendam api kecemburuan.

Barangkali, kau butuh sedikit pencerahan yang akan membuatmu terbangun dari dilema keprestisean musuhku. Mungkin. Sedikit saja.

Kau dapat menggunakanku di segala aktivitasmu. Membuktikan aku selalu dapat diandalkan. Terlebih, pada saat aktivitas mobilitas yang terkadang membuatmu harus terburu-buru. Tubuhku selalu kauasah dengan batu jalanantak membuat sakit ataupun luka, karena itu hal yang amat kusuka. Gesekannya menipiskanku, namun turut melenturkanku. Sama halnya saat kita mengawali semuanya: kekakuan menjadi sebuah kelembutan.

Kau dapat menemukanku di mana pun. Membuktikan aku tidak menyembunyikan diri dari jangkauanmu. Tak pernah sekalipun berniat membuatmu lelah dalam mencari, menemukan, berjuang dan memilikiku. Namun bukan berarti aku sangat mudah untuk didapatkan, ditemukan, diperjuangkan dan dimiliki. Ini caraku membuka diri kepada seseorang yang tulus sepertimu.

Sekarangpencerahan singkatku mungkin membuka sedikit syaraf-syaraf pikiranmu. Namun, ketertarikanmu terhadap musuhku; sesuatu yang bertali, mewah, dan menunjukkan kesan borjuis tak lantas lenyap dari pikiranmu. Aku yakin itu.

Tetapi, ingatlah: kau akan bertahan pada apa yang membuatmu nyaman, sedia berlama-lama, membuatmu merasa mampu melakukan apa pun, selalu ada, dekat serta dapat diandalkan.

Dan itu adalah aku.

Tertanda, aku; sang perindu jamahan jari-jari penenangmu pada tubuhku yang haus untuk kaujepit.

 

 

Tulisan ini saya tulis untuk memenuhi tugas BKM di Fakultas Filsafat UGM.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s